Konsep Pemeliharaan Lingkungan pada Kata Bakar dalam Bahasa Dayak di Kalimantan Timur: Kajian Ekolinguistik

Syamsul Rijal, Muhammad Hasyim, Lukman Lukman, Ery Iswary

Abstract


One of the ethnic groups that is known for its cultural strength is the Dayak ethnic group, which is widely spread in East Kalimantan Province. The Dayak ethnic group has local wisdom that is synonymous with the forest environment. Almost all of their activities depend on forests, including their source of food. Forest management as agricultural land reflects a uniform cultural process in the Dayak ethnic agricultural system. They use the word burn with nutung vocabulary which is different from burning food, such as pisak, tinuq, and kahang in several Dayak language dialects. This burn vocabulary is seen in 6 Dayak languages in East Kalimantan, namely Dayak Kenyah, Dayak Bahau, Dayak Benuaq, Dayak Tunjung, Dayak Punan, and Dayak Penihing/Aoheng. These six Dayak languages differentiate the word burn for the context of burning land and burning food. Ideologically, these two words are included in the cognitive system of Dayak speakers. Sociologically, they can carry out customary regulations well. Biologically, the use of these two words can maintain the relationship of all flora and fauna in the forest ecosystem. Therefore, these two words are linguistic evidence of the concept of environmental preservation in the Dayak language.

 

Abstrak

Salah satu etnis yang terkenal kekentalan budayanya adalah etnis Dayak yang banyak tersebar di Provinsi Kalimantan Timur. Etnis Dayak memiliki kearifan lokal yang identik dengan lingkungan hutan. Hampir semua aktivitas mereka bergantung pada hutan, termasuk sumber lahan pangan mereka. Pengelolaan hutan sebagai lahan pertanian mencerminkan proses budaya yang seragam dalam sistem pertanian etnis Dayak. Mereka menggunakan kata bakar atau membakar dengan kosakata nutung yang berbeda dengan membakar makanan, seperti pisak, tinuq, kahang dalam beberapa dialek bahasa Dayak. Kosakata bakar ini dilihat dari enam bahasa Dayak di Kalimantan Timur, yakni bahasa Dayak Kenyah, Dayak Bahau, Dayak Benuaq, Dayak Tunjung, Dayak Punan, dan Dayak Penihing/Aoheng. Keenam bahasa Dayak ini membedakan kata bakar untuk konteks membakar lahan dan membakar makanan. Secara ideologi, kedua kata ini sudah termasuk dalam sistem kognitif penutur bahasa Dayak. Secara sosiologis, mereka mampu menjalankan regulasi adat dengan baik. Secara biologis, penggunaan kedua kata tersebut dapat menjaga hubungan semua flora dan fauna dalam ekosistem hutan. Oleh karena itu, kedua kata ini menjadi bukti linguistik adanya konsep pemeliharaan lingkungan dalam bahasa Dayak.    


Keywords


bakar; Dayak; ekolinguistik; pemeliharaan lingkungan

Full Text:

PDF

References


Ahimsa-Putra, H. S. (2001). Strukturalisme Levi-Strauss: Mitos dan Karya Sastra. Yogyakarta: Kepel Press.

Alfita, Laili, et al. "Educating the External Conditions in the Educational and Cultural Environment." International Journal of Higher Education 8.8 (2019): 34-38.

Bromhead, H. (2021). Disaster Linguistics, Climate Change Semantics and Public Discourse Studies: A Semantically-Enhanced Discourse Study of 2011 Queensland Floods. Language Sciences. 85 (2021) 101831. https://doi.org/10.1016/j.langsci.2021.101381

Djajasudarma, F. (2006). Metode Penelitian Linguistik: Ancangan Metode Penelitian dan Kajian. Bandung: Refika Aditama.

Dirmansyah, Utama, D. B., Widyaningrum, N., & Widana, I. D. K. (2020). Kearifan Lokal dan Partisipasi Persekutuan Dayak Kalimantan Timur dalam Menghadapi Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan. Perspektif. 9(2). 314 - 321. https://doi.org/10.31289/perspektif.v9i2.3609

Duranti, A. (1997). Linguistic Anthropology. New York: Cambridge University Press. https://doi.org/10.1017/CBO9780511810190

Foley, W. A. (1997). Anthropological Linguistics: An Introduction. USA: Blackwell Publisher.

Garner, M. (2005). Language Ecology as Linguistic Theory. Kajian Linguistik dan Sastra. 17(3). 91 - 101. https://doi.org/10.23917/kls.v17i2.4485

Huvang, V., Devung, G. S., Silpanus. (2020). Makna Tanah Menurut Suku Dayak Bahau Busaang dan Teologi Lingkungan. Gaudium Vestrum: Jurnal Kateketik Pastoral. 4(1)l. 14 - 27.

Julia, Mursalim, & Dahri. (2021). “Kepercayaan dalam Mitos Beo’ Suku Dayak Punan Aput Kecamatan Kayan Hilir Kabupaten Malinau Kalimantan Utara: Kajian Folklor”. Jurnal Ilmu Budaya. 5(1). 67 - 82.

Kotijah, S. (2009). Ekologi Tradisional Dayak Tunjung di Kutai Barat. Gagasan Hukum. https://gagasanhukum.wordpress.com/

Kramsch, C. (2000). Language and Culture. Oxford University Press.

Lei, L. (2021). Exploring Ecological Identity from The Perspective of Sistemic Functional Linguistic. Journal of World Languages. 7(3). 487 - 514. https://doi.org/10.1515/jwl-2021-0013

Liswanti, N., Indawan, A., Sumardjo, & Sheil D. (2004). Persepsi Masyarakat Dayak Merap dan Punan Tentang Pentingnya Hutan di Lansekap Hutan Tropis, Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur. Jurnal Manajemen Hutan Tropika. 10(2). 1 -13.

Ma, C. & Stibbe, A. (2022). The Search of New Stories to Live by: A Summary of Ten Ecolinguistics Lectures Delivered by Arran Stibbe. Journal of World Languages. 8(1). 164 - 187. https://doi.org/10.1515/jwl-2021-0031

Mulyani, S. (2022). Petkuq Mehuey: Kearifan Lokal dengan Kesetaraan Gender dalam Menjaga Hutan Adat Suku Dayak Wehea-Kutai Timur, Kalimantan Timur. Jurnal Sosial-Politika. 3(2). 82 - 90. https://doi.org/10.54144/jsp.v3i2.52

Nurdiyanto, E., Resticka, G. A., dan Yanti, S. N. H. (2022). Ekoliksikon Burung Merpati Sebagai Suplemen Pembelajaran Bahasa Berbasis Lingkungan: Perspektif Ekolinguistik. Semiotika. 23(1). 1 - 13. https://doi.org/10.19184/semiotika.v23i1.24367

Palupi, D. (2015). Di Antara Tiga Bahasa: Sikap Bahasa Masyarakat Perbatasan Indonesia - Malaysia. LOA. 10(2). 97 - 109.

Péres, I. C. (2015). Indigenous Languages, Identity and Legal Framework In Latin America: An Ecolinnguistcs Approach. Procedia: Social and Behavioral Sciences. 33rd Conference of of The Spanish Association of Applied Linguistics (AESLA), XXXIII AESLA CONFERENCE, 16 - 18 April 2015, Madrid, Spain.

Rahmawati, H. (2015). Local Wisdom dan Perilaku Ekologis Masyarakat Dayak Benuaq. Jurnal Indigenous. 13(1). 71 - 78.

Rijal, S. (2021). Bukti Linguistik Keberadaan Pasar Barter di Pulau Kalimantan. Prosiding Kongres Internasional Masyarakat Linguistik Indonesia. 18 - 20 Agustus 2021. Makassar. Masyarakat Linguistik Indonesia, Universitas Hasanuddin. https://doi.org/10.51817/kimli.vi.83

Rijal, S. (2016). Hubungan Bahasa Dayak Kenyah dan Bahasa Dayak Punan: Analisis Ekolinguistik Dialektikal. Prosiding Seminar Nasional Bahasa Ibu IX. Denpasar, 26 - 27 Februari 2016. hal. 2474 - 2487.

Romadhan, A. D. (2022). Piranti Uji Objek Bahasa Dayak Punan. Prosiding Riksa Bahasa XVI. 15 Oktober 2022.

Samsoedin, I., Wijaya, A., dan Sukiman, H. (2010). Konsep Tata Ruang dan Pengelolaan Lahan Pada Masyarakat Dayak Kenyah di Kalimantan Timur. Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan. 7(2). 145 - 168. https://doi.org/10.20886/jakk.2010.7.2.145-168

Subiyanto, A. (2015). Ekolinguistik: Model Analisis dan Penerapannya. Semarang: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro.

Sutrisna, I. P. G. dan Bhandesa, A. M. (2022). Kosakata Tanaman Obat Tradisional Untuk Meningkatkan Dayan Tahan Tubuh (Imun) Pada Pandemi Covid-19: Kajian Ekolinguistik. Stilistika. 10(2). 319 - 333.

Tisen, O.B. (2004). Conservation and Tourism: A Case Study of Longhouse Communities in and adjacent to Batang Ai National Park, Sarawak, Malaysia. A thesis submitted in partial fulfilment of the requirement for the Degree of Master of Parks, Recreation, and Toudsm Managemen At Lincoln University.

Wardhaugh, R. (2006). An Introduction to Sociolinguistics. USA: Blackwell Publishing.

Widjono, R. H. (1998). Masyarakat Dayak Menatap Hari Esok. PT Grasindo: Gramedia Widiasarana Indonesia.

Zhou, W. (2021). Ecolinguistics: A Half-century Overview. Journal of World Languages. 7(3): 461 - 486. https://doi.org/10.1515/jwl-2021-0022




DOI: https://doi.org/10.26499/bahasa.v5i2.726

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.


Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia is indexed by:

 

Creative Commons License

Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

 

@2019

Perkumpulan Pengelola Jurnal Bahasa Sastra dan Pengajarannya (PPJBSIP)

Apartemen Suite Metro
Jalan Soekarno Hatta No. 698B, Kelurahan Jatisari - Kecamatan Buahbatu Bandung, Jawa Barat 40286

 
 
Statistik Pengunjung Jurnal Bahasa